Ironi Citarum Harum: Sampah Kota Bandung Kembali Jadi Sorotan
Program Citarum Harum yang digadang-gadang sebagai upaya ambisius untuk merevitalisasi Sungai Citarum kembali dihadapkan pada ironi yang pahit. Di tengah berbagai upaya pembersihan dan penertiban industri, permasalahan klasik sampah, terutama yang berasal dari kawasan perkotaan seperti Bandung, kembali mencuat dan menjadi sorotan tajam.
Sungai Citarum, yang dulunya dikenal sebagai salah satu sungai terkotor di dunia, kini menunjukkan kemajuan signifikan di beberapa titik berkat program terpadu tersebut. Namun, tumpukan sampah plastik, limbah domestik, dan berbagai jenis polutan lain yang diduga kuat berasal dari aktivitas perkotaan, termasuk Kota Bandung, kembali terlihat di sepanjang aliran sungai. Kondisi ini tentu saja mengancam keberlanjutan upaya pemulihan ekosistem Citarum.
Sorotan terhadap sampah Kota Bandung bukan kali ini saja terjadi. Sebagai salah satu kota besar dengan tingkat konsumsi dan aktivitas ekonomi yang tinggi, Bandung menghasilkan volume sampah yang signifikan setiap harinya. Meskipun pemerintah kota telah berupaya dengan berbagai kebijakan dan program pengelolaan sampah, nyatanya, sebagian sampah tersebut masih berpotensi berakhir di aliran sungai, termasuk Sungai Citarum.
Ironi ini semakin terasa mengingat besarnya anggaran dan perhatian yang telah dialokasikan untuk program Citarum Harum. Upaya keras berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat sipil, seolah tercoreng oleh persoalan mendasar pengelolaan sampah di wilayah hulu dan tengah sungai.
Ke depan, sinergi yang lebih kuat antara program Citarum Harum dan kebijakan pengelolaan sampah di kota-kota besar seperti Bandung menjadi krusial.
Penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pembuangan sampah ilegal ke sungai, peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai, serta edukasi dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi ironi ini dan memastikan Citarum benar-benar harum dan lestari.
Permasalahan sampah ini bukan hanya mencemari visual sungai, tetapi juga membawa dampak negatif terhadap kualitas air dan keanekaragaman hayati di dalamnya.
Mikroplastik dan zat berbahaya dari sampah dapat terakumulasi dalam rantai makanan, mengancam kesehatan manusia dan ekosistem. Oleh karena itu, penanganan sampah yang komprehensif dan berkelanjutan di sumbernya, yaitu di kawasan perkotaan seperti Bandung.